Sabtu, 28 Maret 2015

Ane, ikhwan/akhwat lelet (Aplikasi Pengendalian Sosial_Sosiologi)

Salah satu diantara beberapa bentuk pengendalian sosial ialah berupa sanksi atau hukuman. Sanksi atau hukuman merupakan tindakan tegas yang diambil jika teguran tidak lagi diindahkan oleh pelaku tindak penyimpangan. Sanksi atau hukuman merupakan bentuk pengendalian sosial yang efektif karena pelaku tindak penyimpangan akan mengalami kerugian atau penderitaan, misalnya didenda, diskors, atau mengalami hukuman fisik. Dalam hal ini, sanksi atau hukuman hanya dapat diberikan oleh pihak  yang memiliki kekuatan hukum atau resmi berdasarkan peraturan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, sanksi atau hukuman berfungsi untuk:
a. memberikan efek jera kepada pelaku penyimpangan sosial; dan
b. memberikan contoh kepada pihak lain agar tidak ikut melakukan perbuatan menyimpang (schock theraphy).

Seperti yang telah diterapkan oleh KOMDIS pada acara TMO FSDI yang telah dipercayakan untuk memberikan sanksi kepada panitia yang terlambat. Ini sebagai wujud komitmen dalam menjalankan amanah. Harapannya untuk kedepan setiap anggota akan lebih konsisten dan disiplin.
Semangat FSDI ..
Allahu akbar..!






Jumat, 27 Maret 2015

Nasehat Hasan Basri

Nasehat Hasan Basri

1. Aku tahu rizqiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang.
2. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal shaleh.
3. Aku tahu ALLAH Ta'ala selalu memerhatikanku, karena itulah aku malu jika ALLAH melihatku sedang dalam maksiat.
4. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan ALLAH........

Anak-anakku...
Jangan tertipu dengan usia MUDA karena syarat Mati TIDAK harus TUA.
Jangan terpedaya dengan tubuh yang SEHAT karena syarat Mati TIDAK mesti SAKIT
Jangan terperdaya dengan Harta Kekayaaan sebab Si kaya pun tidak pernah menyiapkan kain kafan buat dirinya meski cuma selembar.
Mari Terus berbuat BAIK,
berniat untuk BAIK,
berkata yang BAIK-BAIK,
Memberi nasihat yang BAIK
Meskipun TIDAK banyak orang
yang mengenalimu dan Tidak suka dgn Nasihatmu, Cukuplah Allah yang mengenalimu lebih daripada orang lain.
Jadilah bagai JANTUNG yang tidak terlihat, tetapi terus berdenyut setiap saat hingga kita terus dapat hidup, berkarya dan menebar manfaat bagi sekeliling kita sampai diberhentikan oleh-NYA.
"Waktu yang kusesali adalah jika pagi hingga matahari terbenam, amalku tidak bertambah sedikit pun, padahal aku tahu saat ini umurku berkurang" (Ibnu Mas'ud)

Kamis, 26 Maret 2015

"Kok bisa ya?"

"Kok, bisa ya?"
"Gimana sih caranya, kok kamu bisa seperti sekarang?"
"Kok dia udah berubah ya, kok bisa?"

Sahabat, seringkali kita medengarkan pertanyaan seperti ini ketika ada sesuatu yang berubah baik pada diri maupun pada diri orang-orang yang berada disekitar kita..

Tahukah engkau, dalam setiap perubahan itu ada sebuah proses.

Kita analogikan saja..
Ketika kita terbangun dari lelapnya tidur di pagi hari,
ada diantara kita yang langsung disambut cerahnya mentari pagi,
namun terkadang pagi tak selalu cerah .. kadang mendung hingga siang, bahkan hingga sore..
dan parahnya mentari tidak lagi muncul hingga malam menjelang..

Sahabat, kau tahu bukan matahari yang enggan menampakkan diri..
namun gumpalan awanlah yang menutupi cahayanya, terlebih awan tebal menciptakan mendung bahkan membawa hujan..
untuk mendapatkan mentari ditengah gumpalan awan, engkau mesti berani untuk menerobos gumpalan awan tersebut untuk mendapatkan secercah cahaya_Nya..
Jika engkau hanya berlarut dalam derasnya hujan, takkan engkau temukan mentari, padahal ketika engkau berhasil menghentikan hujan engkau akan menemukan pelangi dengan ragamnya warna yang akan menghiasi kehidupanmu.

"Jangan sampai sesal menghampirimu diujung senja, ketika mentari tak jua menampakkan diri..
Jangan sampai engkau hidup dalam gelapnya malam, tanpa hiasan bulan dan bintang dikarenakan tebalnya awan yang menggumpal.. "

Sahabat
Begitupun dengan apa yang seharusnya terjadi dalam diri...
Jika ingin ada perubahan, ya haruslah engkau mengadakan perubahan.
Jika engkau inginkah cahaya, haruslah engkau menghidupkannya..
Jika engkau tak mampu menghidupkan, carilah..
ada cahaya yang disudut sana yang kan menerangi sekeping hatimu yang kelam..

Ketika engkau inginkan hidayah menyapamu, temuilah Ia,,
Genggam erat, jangan lagi kau lepaskan..
Agar Ia selau bersamamu, tinggalkan segala yang membuat Ia menjauhimu..
Kau harus tahu, Ia Maha Pencemburu !

Oleh : SyirAm Kreatif..

TMO (Training Motivasi Organisasi)

Buat kamu yang mau gabung di FSDI ,, yuk ikutan!
TMO (Training Manajemen Organisasi)

Selasa, 24 Maret 2015

Berkata Baik atau Diam – AaGym

Puji dan syukur hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadi insan-insan yang terpelihara dalam setiap ucapan kita. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Rasulullah Saw. Sang penutup para nabi yang tiada lagi nabi setelahnya.
Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab [33] : 70-71).
Tidak ada satu katapun yang terlontar dari lisan kita kecuali Allah Swt. mendengarnya. Dan, tidak ada satu kata pun yang kita ucapkan kecuali pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Oleh karena itu, beruntunglah orang yang senantiasa memelihara lisannya untuk tidak berkata kecuali yang benar dan baik saja. Sungguh beruntunglah orang yang memelihara lisannya untuk jauh dari perkataan yang sia-sia dan tiada berguna. Karena, menghindari ucapan yang sia-sia dan tiada berguna adalah ciri dari keimanan kepada Allah Swt.
Saudaraku, sesungguhnya ucapan kita bisa menunjukkan bagaimana kualitas diri kita. Ucapan kita menunjukkan bagaimana isi kita. Seperti moncong teko, ia hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam teko. Maka, ketika kita banyak berkata kotor, kasar, tidak berguna, maka kita sebenarnya sedang menjatuhkan kehormatan diri kita sendiri.
Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap ucapan bani Adam itu membahayakan dirinya sendiri, kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf dan nahyi munkar serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi).
Kata-kata itu jika sudah terlontar dari lisan kita, maka ia bagaikan anak panah yang sudah melesat dari busurnya. Ia tak bisa ditarik lagi. Apalagi jika sudah tertancap, maka jika dicabut pun ia akan meninggalkan bekas. Kata-kata yang tidak terjaga, bisa melukai perasaan orang. Dan, jika itu sudah terjadi, meminta maaf pun tidak bisa menghilangkan bekas lukanya. Bagaikan paku yang tertancap di tembok, ketika paku itu dicabut maka bekasnya tetap akan tertinggal di sana.
Oleh sebab itu, hati-hatilah dengan ucapan kita. Hindari celetak-celetuk tak karuan. Kurangi berbicara yang tidak perlu. Karena terlalu banyak berbicara yang tidak perlu akan membuat kita melantur, melebih-lebihkan cerita hingga akhirnya terjebak dalam kubangan dusta.
Lebih mengerikan lagi jika kita terseret pada ghibah. Obrolan-obrolan yang tak terjaga, dibumbui kebohongan yang didramatisir, membicarakan keburukan orang, sungguh bukan semakin kotorlah hati kita dengan noda-noda dosa.
Lisan kita sangat ringan. Tidak perlu tenaga yang besar untuk menggerakkannya. Juga tidak perlu biaya mahal untuk menggunakannya. Namun, dari lisan ini bisa timbul perkara yang luar biasa. Bisa ada orang yang sakit hati karenanya. Permusuhan bisa terpicu disebabkannya.
Bicaralah hanya yang benar dan baik saja. Jika tidak bisa, maka lebih baik diam. Ada sebuah ungkapan, “Diam itu emas”. Benar, ketika dibandingkan dengan berbicara yang berisi keburukan atau kesia-siaan. Sehingga yang terbaik adalah berbicara yang mengandung kebaikan dan kebenaran. Perkataan yang seperti ini menjadi bagian dari kerangka dzikir kepada Allah Swt.
Untuk bisa berkata baik dan benar, kita perlu juga memperhatikan situasi dan tempat. Karena, “Likulli maqaam maqaal, wa likulli maqaal maqaam”, setiap perkataan itu ada tempatnya yang terbaik, dan setiap tempat ada perkataannya yang terbaik.
Artinya, setiap kata yang kita ucapkan perlulah disesuaikan dengan tempat, situasi dan siapa yang kita hadapi. Karena cara berbicara dengan anak-anak tentu berbeda dengan cara berbicara dengan orang dewasa. Berbicara dengan teman kita tentu berbeda dengan berbicara dengan orang tua kita. Jika kita tidak terampil dalam hal ini, maka niat yang benar bisa-bisa memberikan hasil yang tidak efektif.
Subhannallah. Sedemikian agungnya agama kita. Bahkan kepada orang kafir sekalipun, Rasulullah Saw. melarang kita berkata-kata buruk kepada mereka. Setelah perang Badar, Rasulullah Saw. sempat bersabda, “Janganlah kamu memaki mereka dari apa yang kamu katakan, dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. Ketahuilah bahwa kekotoran hati itu tercela.” (HR. Nasai).
Mari kita bersungguh-sungguh menjaga lisan kita dari perkataan yang kotor dan tiada berguna. Jauhkan diri kita dari celetukan-celetukan. Tahan lisan kita dari komentar-komentar yang tidak perlu, ungkapan yang mengutuki keadaan.
Berkata baik dan benar adalah ciri dari orang beriman, semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamin.[]

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.
Editor : Rashid Satari

Sabtu, 21 Maret 2015

Bukan Sekedar Kata

Banyak kata terucap setinggi langit,
memecahan telinga, tuli seketika
Kata tak berati di hadapanNya,
tangan dan kaki berganti bicara

Katakan yang benar, karena kebenaran
diamlah diamlah jaya keemasan
Nyatakan katamu, bukti kesungguhan..
Mulianya dunia bukan karena kata


Izzatul Islam

Dunia Indah Menipu



Dunia Indah Menipu
Perangkapnya kan menjeratmu
Segera bebaskan dirimu
Jadikan Qur'an pemandu
Tetapkan azzam di jiwa
Jihad dakwah di jalanNya
Serahkan diri padanya
Raih kemenangan nyata

Binalah diri dengan agama suci
Ikhlas hati hanya tuk Illahi
Kibarkan tinggi panji Robbul Izzati
Wujudkan kehidupan Rabbani

Dunia Indah Menipu
Perangkapnya kan menjeratmu
Segera bebaskan dirimu
Jadikan Qur'an pemandu
Tetapkan azzam di jiwa
Jihad dakwah di jalanNya
Serahkan diri padanya
Raih kemenangan nyata

Berderap melangkah tuju kejayaan
Mujahid lantangkan seruan
Berderap melangkah sirna kehinaan
sambutlah cahya kemuliaan
Berderap melangkah tuju kejayaan
Mujahid lantangkan seruan
Berderap melangkah sirna kehinaan
Raih hari esok nan gemilang

Apapun yang terjadi
Tetapkan hati ini
Gapai cita nan tertinggi
Syahid di jalan Illahi

Berderap melangkah tuju kejayaan
Mujahid lantangkan seruan
Berderap melangkah sirna kehinaan
sambutlah cahya kemuliaan
Berderap melangkah tuju kejayaan
Mujahid lantangkan seruan
Berderap melangkah sirna kehinaan
Raih hari esok nan gemilang

Dunia Indah Menipu
Perangkapnya kan menjeratmu
Segera bebaskan dirimu
Jadikan Qur'an pemandu
Tetapkan azzam di jiwa
Jihad dakwah di jalanNya
Serahkan diri padanya
Raih kemenangan nyata
Raih kemenangan nyata
 
_Izzatul Islam

Minggu, 15 Maret 2015

Sisa Umur Kita



Tiba-tiba saja terfikir suatu hal, yaitu umur manusia. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana kalo saya tahu bahwa umur saya hanya sampai umur 25 tahun, atau 35 tahun, atau 5 hari lagi. saya terpikir banyak hal yang akan saya lakukan. Saya tertarik untuk berbagi kisah ini pada saudara2 pembaca blog ini. semoga kita bisa diskusi dan mendapat banyak manfaat.

jika anda tahu sisa umur anda tinggal 1 tahun, apa saja yang akan anda lakukan untuk mengisi sisa umur itu?

 
Mungkin sebagian akan menjawab:

bersenang-senang
jalan-jalan ke tempat indah yang belum didatangi
makan sepuasnya setiap hari
segera nikah
dll

mungkin sebagian orang yang lain memilih:

memperbanyak ibadah shalat dan dzikir
memperbanyak sedekah
memperbanyak silaturahim
bekerja lebih giat
memberikan hak keluarga dan orang-orang disekitarnya
dll

kenapa dua kelompok kegiatan tersebut begitu berbeda dan seolah bertolak belakang?

Saudaraku, salah satu hikmah besar dirahasiakannya bilangan umur kita adalah agar kita tidak tahu kapan kita mati. ketika kita tidak tahu kapan kita akan mati, pada dasarnya kita akan merasa setiap saat bisa jadi ajal kita, maka kita akan selalu berhati-hati dengan tindakan kita. Kita tidak akan tahu kapan kita akan mati. apakah saat remaja? ataukah saat kita sudah tua? dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan mati. apakah hari ini? atau besok? dan kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. apakah saat tidur? apakah saat berkendaraan? ataukah ketika kita sedang membaca Al Quran?

Seandainya ALLAH menghendaki semua manusia mengetahui kapan ia mati, dimana ia mati, dan kapan ia mati, akankah kehidupan dunia ini dihiasi kebaikan demi kebaikan? saya rasa tidak.

kemungkinan yang bisa kita bayangkan:

sedikit manusia selalu menghiasi umur dengan ibadah
lebih banyak manusia terus menerus berbuat dosa hingga akhir hayatnya
jauh lebih banyak lagi manusia terus berbuat dosa hingga sedikit sisa umurnya ia bertaubat

Saya rasa jenis ketiga akan mendominasi isi dunia. orang-orang seperti ini selalu berfikir bahwa masih ada waktu untuk bertaubat. Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi dunia ini didominasi kejahatan dan kriminalitas, maksiat, hedonis, dan sejenisnya.

Maka segala puji bagi ALLAH Yang Maha Sempurna perhitungannya. ALLAH sangat memahami betapa manusia senantiasa berada antara kecenderungan yang baik dan yang buruk (QS Asy-Syams: 8), maka ia menyelamatkan manusia dari fitrahnya tersebut, dengan jalan menjadikan umur sebagai hal ghaib yang tidak diketahui manusia. untuk apa? agar manusia selalu berhati-hati dalam hidupnya, dan agar manusia selalu berada dalam kebaikan.

#TIM INSPIRASI

Orang-orang yang didoakan malaikat

Orang-orang Yang Didoakan Oleh Para Malaikat


Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci".
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’"
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan"
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah
(tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf"
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu"
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’"
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’"
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang sedang makan sahur"
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Senin, 09 Maret 2015

Mengapa kita harus berbagi?

Ditulis: TIM INSPIRASI
Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk berempati kepada orang yang sedang berduka dan berbagi ketika mendapatkan kebahagiaan.
Berbagi yang tertinggi derajatnya adalah itsar, yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, sekalipun ia sendiri masih membutuhkannya.
Itulah yang dilakukan kaum Anshar (penduduk asli Madinah) kepada kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) sebagaimana pernah disebutkan dalam tulisan sebelumnya tentang seorang Sahabat yang menerima seorang tamu untuk bermalam di rumahnya. Sahabat itu sendiri tidak memiliki sesuatu untuk disuguhkan kecuali makan malam yang pas-pasan untuk keluarganya.
Betapa mulianya sikap Sahabat itu sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikan dalam al-Qur`an. Sayangnya saat ini jarang sekali kita menemukan sikap seperti itu.
Lalu bagaimanakah hakikat berbagi dan apa saja yang menghalangi seseorang untuk berbagi?
Hakekat Berbagi
Berbagi merupakan sedekah. Berbagi antar sesama atas apa yang kita miliki secara sah dan halal merupakan sifat mulia. Kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagaimana firman Allah Ta’ala:
Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu. (Al-Qashas [28]: 77)
Banyak terminologi dalam Islam yang menjelaskan makna berbagi. Misalnya, amal perbuatan baik disebut dengan sedekah. Pemberian yang diwajibkan terhadap umat Islam untuk memuliakan dan mensucikan seseorang disebut zakat atau sedekah.
Berbagi adalah memperoleh. Berbagi yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridhaan Allah Ta’ala akan mendapat pahala berlipat ganda. Firman-Nya,“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Allah maha luas karunia-Nya dan lagi maha mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 261)
Terlebih di bulan Ramadhan ini, kita selayaknya meningkatkan semangat berbagi sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadhan diibaratkan melebihi hembusan angin yang membawa kesejukan dan kehidupan bagi alam.
Berbagi bukan hanya dengan materi, tapi juga dengan rasa. Bila Anda sedang berbahagia maka berbagilah agar kebahagiaan itu terasa semakin besar. Sebaliknya, bila Anda dilanda kesedihan atau kedukaan juga berbagilah agar terasa lebih ringan.
Berbagi dalam kebahagiaan tidaklah sesulit untuk membagi kesedihan. Sebab, dalam kebahagiaan kita mudah untuk menemukan seseorang untuk berbagi.
Tapi ketika bersedih, kita merasa enggan untuk mengungkapkan kesedihan. Karena diri kita akan terlihat cengeng. Dan, untuk mencari seseorang yang bersedia mendengar keluh-kesah tidaklah mudah. Maka sungguh berbahagialah bila dalam kehidupan ini kita mampu dan bersedia berbagi suka dan duka bersama orang-orang baik yang menjadi sahabat sejati.
Penyakit Berbagi
Adapun berbagi yang lebih utama hakekatnya adalah untuk memberikan maslahat diri dan orang lain. Karenanya perlu dihindari sifat-sifat yang mengiringinya sebagai berikut:
1. Berbagi sambil menyakiti hati penerimanya. Firman Allah Ta’ala:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah [2]: 264)
2. Menuruti sifat setan yang kikir dan mengajak untuk berlaku kikir. Firman Allah Ta’ala: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 268)
3. Berbagi karena riya atau cari popularitas. Firman Allah Ta’ala:
Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy-syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy-syirkul ashghar? Beliau menjawab: ar-riya’.” (Riwayat Ahmad)
4. Berbagi karena keuntungan duniawi semata. Firman Allah Ta’ala:
Barangsiapa yang menghendaki kenikmatan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Huud [11]: 15-16).
Dan janganlah kamu berbuat karena menginginkan imbalan yang lebih banyak. (Al-Muddatstsir [73]:6)
Pelihara Sifat Berbagi
Untuk menumbuhkan sifat berbagi, hendaknya setiap orang memelihara sifat-sifat berikut:
1. Dermawan harus selalu dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. Sehingga ia akan memperoleh keberkahan hidup, kepuasan batin, dan ketenangan jiwa. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bertanya kepada para Sahabatnya:
Apakah engkau menginginkan kepuasan dan kesuksesan batin serta terpenuhi kebutuhan hidup? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan yang sama dengan makanan yang engkau makan. Pasti engkau akan mendapatkan kesuksesan batin dan akan terpenuhi kebutuhan hidup. (Riwayat Thabrani dari Abu Darda)
2. Menjaga niat semata-mata karena Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala:
Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah [98]: 5)
3. Tetap sopan serta lemah-lembut. Nabi SAW bersabda kepada ‘Aisyah:
Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah Subhaanahu wa ta’ala bersifat lemah-lembut, dan menyukai kelemahlembutan. (Muttafaqun Alaih).
Di lain waktu beliau berkata kepada seorang Sahabatnya, “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah. Santun dan murah hati.” (Riwayat Muslim). SUARA HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2010
Wallahu a’lam bish-Shawab.***

Apa tujuan kalian memperlihatkan foto wajah kalian?


Dengan Nama Allah yang Maha Rahman Maha Rahiim

Semoga apa yang ana sampaikan nantinya tidak ternoda dengan hawa nafsu pribadi, tapi memberikan jawaban yang sesuai apa yang telah ana pahami selama ini, insya Allah......

Saudaraku fillah, Allah telah memerintahkan kepada wanita-wanita yang beriman, laki-laki yang beriman untuk menundukkan pandangan, dan menundukkan pandangan itu jika kita mau memahaminya sungguh luas cakupannya, tidak hanya menahan pandangan kedua mata, tapi juga setiap anggota tubuh dari apa-apa yang menurut syari'at itu tidaklah layak untuk dinikmati...

Janganlah kita menjadi sebab orang lain berbuat dosa, tidakkah kita juga merasa berdosa telah membuat saudara kita yang lain berbuat dosa, karena kita?

Bukankah Allah telah memerintah bagi wanita-wanita yang beriman untuk menundukkan pandangan, begitu juga laki-laki yang beriman?

Dimanakah kalian hamba-hamba Allah yang beriman mengaplikaikan perintah Allah ini?

Allah menganuriakan kepada kita wajah yang cantik, tampan, tapi ada pula yang menurut kata manusia itu wajah yang buruk, jelek, padahal itu sesungguhnya sebaik-baik ciptaan yang telah Allah karuniakan kepada kita masing...

Lantas bukan berarti yang berwajah tampan, cantik kemudian takabur, merasa bangga, merasa dirinya layak untuk diketahui semua orang, sehingga ia mendapatkan sanjungan dan pujian, dan tidak sedikit karena kecerobohan sikapnya itu, iya kecerobohannya, ia telah membuat hamba Allah lainnya cemburu,bahkan berbuat dosa karena sikapnya itu...

Dan bukan berarti pula yang dikaruniai wajah yang kurang tampan,kurang cantik harus berkecil hati,sungguh tidak ada yang patut untuk disedihkan,karena Allah tidak melihat semua itu, Allah hanya melihat apa yang ada didalam hati...

Saudaraku fillah, bagaimana mungkin perintah Allah untuk menundukkan pandangan itu akan tercipta dengan baik, jika salah satu pihak dari kaum muslimin meremehkannya?

Tidak cukup dengan laki2 yang beriman yang menundukkan pandangannya sj akan tetapi wanita2 yang beriman malah mengumbar perhiasan mereka???

bagaimana mungkin seorang laki2 bisa menjaga kedua matanya dari memandang yang seharusnya tak ia pandangan sedangkan disamping kiri kanannya ada wanita2 yang tidak mau mengindahkan perintah Allah untuk menjaga perhiasan mereka?

siapakah yang bersalah misal terjadi yang demikian yaa ikhwah???

Nasihat saudaramu yang masih jahil ini kepada saudariku, sungguh, janganlah kalian menampakkan wajah kalian dihadapan laki2 yang bukan mahram kalian,jangan mengusik hati kami dengan indahnya wajah kalian,simpan baik2 wajah indah itu,itu karunia Allah tak seharusnya kalian tempatkan pada tempat yang tidak mulia, tidakkah kalian berpikir jika misal ada laki2 beriman menjadi kotor hatinya karena melihat foto antum,baik sengaja atau tidak sengaja?

kemudian hatinya gelisah, sungguh kami ingin menjaga kedua mata ini tapi wanita2 itu malah menampakkannya,

benar iman kami lemah yaa Allah,tapi apa kami yang salah sedangkan kami sudah mencoba pandangan kedua mata ini,tapi hambamu yang bernama wanita itu tidak mau melaksanakan perintahmu untuk menundukkan pandangan,tidak menjaga perhiasannya???a

pakah kalian wahai para wanita,siap dihadapkan pada pengadilan Allah atas aduan2 itu nantinya???apa yang akan kalian katakan pada Allah,saudariku?

Nasihat untuk saudaraku laki-laki yang beriman, janganlah kalian lemah akan tipu daya syaithan, sungguh wanita itu memang diciptkan akan menjadi fitnah yang sungguh dahsyat kerusakannya untukmu laki2 beriman jika kalian lengah dr pada menjaga hati dan kedua matamu...dikedua mata wanita itu terdapat binar2 iblis yang mana jika kalian melihatnya maka ia akan bisa menjadikan kalian layaknya iblis yang tunduk patuh pada hwa nafsu dan menjadi budak2nya syaithan...oleh karena itu,tidak usah kalian dekat2 dengan mereka jika memang tidak ada kepentingan yang mana dibenarkan oleh syar'i, cukuplah wanita yang akan menjadi istrimu kelak engkau berasyik masyuk dengannya...

Saudariku, niat baik itu tidak cukup untuk melakukan sebuah kebaikan,tapi hendaknya niat baik itu juga diikuti dengan cara yang baik pula untuk meraihnya. Sungguh, tidak perlu,tidak penting kalian memasang foto kalian dimedia semacam fb ini, itu hanya akan menimbulkan fitnah, jangan hanya melihat maslahatnya saja, tapi tengoklah juga madharatnya nanti, jangan hanya menuruti keinginan pribadi, tapi ingin pulalah kami kaum laki2, kami ingin menjaga diri, kami ingin menundukkan pandangan, jangan kalian menjadi semacam penggoda mata2 kami ini.

Sejak awal,tidak hanya sekali,ana sudah menyerukan kepada wanita2 beriman yang memasang fotonya di fb, untuk segera diganti dengan gambar lain sj,alhamdulillah ada beberapa yang menerima pendapat ana, karena jika kita melakukan suatu kebaikan,hendaklah diliat maslahat dan madharat yang akan terjadi, tidak cukup dengan niat baik,tapi juga diiringi dengan niat yang benar pula.

Apa tujuan kalian memperlihatkan foto wajah kalian?

bahkan tidak sedikit wanita yang bercadar yang melakukan ini, ana tanyakan kepada beliau2 ini, apa tujuan antum semua bercadar?
untuk menjaga wajah dari tatapan mata laki2?
kalau memang begitu, lalu kenapa setelah antum bercadar malah antum tampakkan didepan khalayak yang bisa semua orang diseluruh penjuru dunia ini melihat antum?

memandangi antum?

menatap, bahkan mencermati setiap lekuk dari wajah itu, atau mencetaknya dan disimpan dalam kamarnya?

apa kalian tidak merasa jijik?
tidak merasa risih?

yaa ikhwah, dakwah itu memang wajib, tidak ada larangan wanita berdakwah kepada laki2 dan sebaliknya, tapi jagalah batas2 yang ada,jangan melanggarnya, perhatikan adab2nya

bagaimanapun juga antum kelak hanya akan bersuamikan seorang laki-laki, tidak kasihankah antum jika foto-foto antum itu tidak hanya menjadi milik laki-laki yang akan menjadi suami antum kelak?

tapi juga menjadi foto yang mngkin saja setiap laki-laki yang meliat foto antum mempunyai, menjadikannya teman tidur dikala malam,memandanginya???
Na'udzubillah
kalau begitu,apa antum tidak sebaiknya menyimpan foto-foto pribadi antum saudariku???

berbicara sebagai identitas, sungguh ini alasan yang tidak logis menurut kaca mata syari'at, kenapa? dengan memasang foto itu tidak menjamin orang lain tidak bisa menggunakan identitas kita untuk berbohong, jika itu alasannya, apa antum tidak berpikir foto antum itu bisa di save? dan kemudian di jadikan picture di account fb orang tersebut? ini alasan yang tidak mendasar, sungguh..yang ada hanya akan timbul fitnah,saudariku...

apakah antum hanya akan menyalahkan kaum laki2 yang berbuat demikian,misalnya? apakah antum tidak berpikir bagaimana bisa para laki-laki itu bisa berbuat demikian? karena apa dan siapa??? tidakkan antum merasa punya andil bagi laki2 tersebut berbuat dosa? niat dan tujuan saja itu tidak cukup saudariku,wallahu tidak cukup...tapi hendaknya diiringi dengan cara yang benar....kalau antum meyakini kebenaran niat dan tujuan yang baik itu sudah cukup tanpa dibarengi dengan cara yang baik, maka akan timbul banyak kerusakan, lalu bagiamana dengan seorang pencuri yang mencuri dengan niat untuk disedekahkan? untuk menafkahi keluarganya? apa antum juga membenarkan tindakan yang semisal demikian? baik itu niatnya,untuk sedekat,memberi nafkah,tapi apa antum menafikan bagaimana orang itu merealisasikan niat baiknya itu????

Allahu a'lam

Sabtu, 07 Maret 2015

:Mungkin mereka belum paham"




Suatu ketika saya pernah berkunjung ke sebuah Universitas yang terkenal dengan banyaknya jumlah ADK disana. Saya sangat mengagumi universitas tersebut, dakwah dan hijabnya yang terjaga. Kali ini saya berada disebuah fakultas yang ternama jiwa sosialnya.  Jiwa sosial, tentu saja mereka begitu peka dengan segala hal.

Disudut sana ditengah ramainya kerumunan, terlihat kokohnya tenda disamping pohon akasia. Ya, kawanan jilbab dalam itu tengah sibuk beradu pandang dengan para pembeli, ramai sekali. Tak hanya lihai dalam dakwah, mereka juga kompak dalam perniagaan. Akan tetapi, ada sesuatu yang sangat berkesan menarik kedua bola mata ini.  Saya mencoba menghampiri hendak meminta sebuah alasan.

“Subhanallah, saya begitu bahagia melihat antum/na semua begitu bersemangat dalam perniagaan ini. Akan tetapi diantara ramainya barang dagangan ini ada yang menganggu mata saya”.


“Terimakasih, kalau boleh tahu apa gerangan yang merusak pandangan tuan?”

“Saya begitu mengagumi aktivis dakwah dikampus ini, sangat, sangat mengagumi.. begitu banyak hal yang sangat dipuji dari aktivis dakwah dikampus ini, apalagi himbauan kepedulian mereka terhadap kedzaliman dibumi pertiwi. Tegasnya  ucapan mereka menentang kemungkaran. Begitu besarnya cinta mereka kepada saudara mereka di penjara dunia sana, sehingga tanpa rasa malu mereka mengumpulkan lembaran uang, recehan dan apa saja yang mereka miliki bukti cinta muslim Palestina.

Sorakkan mereka yang menggemparkan dunia, berteriak boikot Israel dan Palestina. Ya, saya masih ingat. Begitu banyaknya para ADK yang begitu antusias meminta dunia untuk memboikot produk-produk bangsa Tirani itu. Namun, mengapa barang dagangan disini rasanya janggal sekali?” (sembari menunjuk barang dagangan aktivis dakwah tersebut).

“Oh, ini. Maaf, kami terpaksa tuan.
Sudah diusahakan, hanya ini yang ada.
Apalagi banyak yang suka”.

Saya hanya terdiam, membalikkan badan dan melangkah pergi dengan sebuah kekecewaan. Sepanjang lambannya langkah kaki, saya memandangi semua barang yang diperdagangkan disepanjang jalan. Tak hanya minuman juga makan ringan.

“Boikot semua!” saya bergumam.

Tapi semua itu tak lebih parah dari apa yang saya temui tadi. ADK saja begini, apalagi mereka...
Dalam dakwah saja begini, apalagi nanti. Hanya demi lembaran uang, nyawa saudara dikorbankan. Masih didalam sangkar, apalagi kalau sudah dilepaskan.

“Ya, gimana lagi.. kita butuh uang!”
“Ya, Cuma itu yang ada!”

 Tak sekedar mengkomsumsi namun juga distribusi, untung ya besar namun semua dari kebathilan. Bukankah dibumi Andalas ini semua orang juga minum Aia? Mengapa harus produk mereka? Alternatif lain kan ada!

 Terkadang disinilah Allah menguji keistiqamahan..

Bagaimana nanti diluar, memiliki mall yang sangat besar dan terkenal. Sudah pasti mereka ikut menjajakan produk mereka, apakah kau kuat untuk menolak.

Bagaimana nanti jikalau engkau membuka warung kecil-kecilan. Apakah kau tahan tak menjual produk mereka? Disini saja engkau masih penuh keraguan, bagaimana nanti???

Coba bayangkan, setiap laba dari perniagaan itu untuk apa mereka gunakan..
Ingat, tajamnya peluru menembus tubuh saudaramu karena ulahmu...
Pikirkan,,,
Apa yang akan kau jawab diakhirat kelak???

ADK saja begini, bagaimana yang lain....
Astagfirullah, saya tersadar..

“Mungkin mereka belum paham!”
walllahu’alam,.