
Dalam
Islam memang tidak dikenal proses pacaran seperti apa yang dipahami
kebanyakan remaja islam sekarang. Proses pacaran seringkali lebih
banyak membawa mudharat daripada manfaat, bahkan seringkali membawa
kepada perbuatan yang dilarang dalam agama,. Melihat kecenderungan
aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit
untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta
satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak
berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu
kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting
dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.
Semua bentuk aktifitas itu cenderung bukanlah sebuah aktifitas cinta,
sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali
tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan
tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang
kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah
harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak
terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan
cinta.
CINTA, FITRAH ANAK MANUSIA
Manusia diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan membawa
fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana
firman-Nya, artinya,
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat
kembali yang baik (surga)." (QS. Âli-'Imrân: 14).
Berkata Imam Qurthubi, "Allah memulai dengan wanita karena kebanyakan
manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat
setan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Tiadalah aku tinggalkan
setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita."
(HR. Bukhârî dan Muslim).
Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya.
(Lihat Tafsîr al Qurthubî 2/20). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam pun, sebagai manusia, tak luput dari rasa cinta terhadap wanita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Disenangkan
kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita." (HR. Ahmad dan
selainnya dengan sanad hasan).
Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah menjadikan wanita
sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang
beriman di surga dengan bidadarinya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Dunia ini
adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang
shalihah." (HR. Muslim).
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya, "Di dalam
surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi
cantik-cantik." (QS. Ar-Rahmân: 70).
Namun, Islam sebagai agama paripurna para rasul, tidak membiarkan
fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas
bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua
insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam
koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari'at.
PACARAN BUKANLAH PENJAJAKAN/PERKENALAN
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling
melakukan penjajagan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua
calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu
tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang
diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan
yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda
Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,
"Wanita itu dinikahi karena 4 hal: [1] hartanya, [2] keturunannya,
[3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu
akan selamat." (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor
4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain empat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang
memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang
tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam
masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat
penting.
Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta'aruf. Jauh lebih
bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan
pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya
saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik,
bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam
kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat
berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam
keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah
tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah
mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari
suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah
penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan
pengelabuhan.
Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun
segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi.
Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam
hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
ETIKA PERGAULAN LAWAN JENIS DALAM ISLAM
1. Menundukan Pandangan terhadap Lawan Jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya,
sebagaimana firman-Nya, artinya, "Katakanlah kepada laki-laki yang
beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
kemaluannya." (QS. An-Nûr: 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah
berfirman, artinya, "Dan katakanlah kepada wanita yang beriman,
"Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan-nya."
(QS. An-Nûr: 31).
2. Menutup Aurat
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan janganlah mereka menampakan
perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah
mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nûr: 31).
Juga firman-Nya, artinya, "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.
Al-Ahzâb: 59).
3. Adanya Pembatas Antara Laki-laki dengan Wanita
Seseorang yang memiliki keperluan terhadap lawan jenisnya, harus
menyampaikannya dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya,
artinya, "Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para
wanita) maka mintalah dari balik hijab." (QS. Al-Ahzâb: 53).
4. Tidak Berdua-duaan dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah seorang laki-laki
berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya." (HR.
Bukhârî 9/330, Muslim 1341).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda, "Janganlah
salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena
setan akan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzî dengan
sanad shahih).
5. Tidak Mendayukan Ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain
suami. Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala, artinya, "Hai istri-istri
Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah
perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzâb: 32).
Berkata Imam Ibnu Katsîr—rahimahullâh, "Ini adalah beberapa etika yang
diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam serta para wanita Mukminah lainnya, yaitu hendaklah
dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian
janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia
berbicara dengan suaminya." (Tafsîr Ibnu Katsîr: 3/530).
6. Tidak Menyentuh Lawan Jenis
Dari Ma'qil bin Yasâr t berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam bersabda, "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi
itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal
baginya." (HR. Thabrânî dalam Mu'jam al Kabîr: 20/174/386).
Berkata Syaikh Al-Albânî—rahimahullâh, "Dalam hadits ini terdapat
ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak
halal baginya." (Ash-Shohîhah: 1/448).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah menyentuh wanita
meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain-lain. Dari
'Aisyah berkata, "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh
tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR. Bukhârî
4891).
Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram,
yang mana, apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja
akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk
anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata
dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa
berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan
atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhârî dan Muslim).
Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah melarang perbuatan zina dan
segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan. (Lihat Hirâsatul Fadhîlah
oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, hal. 94-98). Sebagaimana firman-Nya,
artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS.
Al-Isrâ': 32).
Hukum Pacaran
Setelah memerhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi
bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut:
- Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya
terhadap kekasihnya. Awal munculnya rasa cinta itu pun adalah dari
seringnya mata memandang kepadanya.
- Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
- orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah
- Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya
- Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
- Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.
Perhatikan kembali etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam
yang telah kami sebutkan di atas. Berapa poin pelanggaran yang
dilakukan oleh orang pacaran? Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut
adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan
pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?
Nggak Ada Pacaran Islami!
Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani
tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson’s Creek tapi bukan
berarti kemudian dikatakan ada pacaran islami. Itu nggak benar. Tetap
saja, siapapun yang melakukan aktivitas maksiat, tetap saja berdosa.
Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid lalu ada istilah
pacaran Islami. Nggak bisa, jangan-jangan nanti kalo anak masjid
kebetulan lagi nongkrongin? judi rolet, disebut judi islami? Wah
gawat bin bahaya, Non!
Tapi mungkin bukan itu yang dimaksud. Kita yakin kok, kalo yang
namanya pacaran secara ‘radikal’, pasti anak masjid nggak bakal
melakukannya. Malu. Bisa jadi itu alasannya. Tapi masalahnya adalah
bagaimana ketika mereka mengekspresikan rasa cintanya, karena
beliau-beliau juga manusia seperti kita. Barangkali sebagian anak
masjid menganggap boleh-boleh saja bila aktivitas pacaran itu tidak
sebrutal pada umumnya. Boleh jadi itu dugaan dan anggapan. Disinilah
perlunya pemahaman Islam yang benar dan tinggi. Jangan sampai
aktivitas maksiat berubah menjadi halal hanya gara-gara pake
embel-embel Islam. Nggak bisa dan memang nggak benar.
Tentu lucu bin menggelikan dong, bila suatu saat nanti teman-teman
remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena ‘virus’
cinta kemudian mengekspresikan cintanya lewat pacaran. Tapi inget,
aktivitas itu nggak bisa disebut pacaran islami, karena memang nggak
ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pake
jilbab, baju koko dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid, kita
sebut aktivitas pacaran Islami. Wah salah besar, itu. Dan yang jelas
dosa besar!
Suer, kita juga nggak pernah dengar istilah daging babi islami, hanya
gara-gara disembelihnya dengan menyebut nama Allah, misalkan. Ya
nggak? Begitulah, tak ada istilah pacaran islami, seperti halnya tak
ada istilah daging babi islami. Catet itu, Brur!
Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur
menganggap aktivitas baku sayhwatnya sebagai pacaran islami? Tentu
saja itu dosa. Sekali lagi dosa! Iya dong, soalnya siapapun yang
melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak
masjid. Malu-maluin aja.
Jadi memang pacaran islami itu nggak ada. Tapi kenapa istilah itu bisa
muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja yang punya semangat
keislaman tapi miskin tsaqofah Islamnya. Modalnya cuma semangat doang.
Karuan saja itu sangat berbahaya. Bukan apa-apa, mencintai Islam
nggak cukup modal semangat yang menyala. Ilmunya juga kudu
dipelajari. Kalo nggak kenal, tentu saja kita nggak bakal sayang sama
Islam. Makanya harus mengenal Islam lebih jauh. Supaya bisa
‘menyayanginya’. Bahkan akan membelanya jika ada orang yang berusaha
memadamkan cahaya Islam. Remaja yang mencintai Islam tentu saja nggak
bakal menodai Islam dengan aktivitas maksiatnya, seperti pacaran,
misalkan. Itu nggak baik dan memang nggak bener. Kalo kamu dilanda
cinta, kan nggak mesti diwujudkan dalam bentuk pacaran, iya, nggak??
Bagaimana Mengendalikan Cinta?
Siapa bilang cinta tak bisa dikendalikan? Bisa, Brur! Malah kalo tahu
aturan mainnya enjoy saja, tuh. Barangkali yang merasa sulit
mengendalikan cinta karena memang terlalu memanjakan hawa nafsunya.
Bener kan? Aduh, bila yang terjadi demikian, berarti memang rada-rada
sulit untuk bisa mengendalikan. Ibarat kamu lagi sakit, tapi tak
berusaha untuk menyembuhkannya. Pantangan malah diterjang, ya, gawat.
Gimana mau sembuh?
Memang betul, bila hati tengah dilanda cinta, serasa dunia milik
sendiri dan cuma ingin membaginya kepada seseorang yang selalu ada di
hati. Kemana saja dan di mana saja selalu ingat si dia (tapi
hati-hati, jangan sampai lihat ’saudara-saudaranya’ di kebun binatang
jadi ingat si dia juga). Malah tak jarang yang akhirnya harus
menderita karena cinta pula.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya yang berjudul “Raudhah Al
Muhibbin wa Nuzhah Al Musytaqin” alias “Taman Orang-orang Jatuh Cinta
dan Memendam Rindu” mengutip sebuah kisah tentang ‘kuatnya’ cinta yang
mampu membuat pelakunya tetap mencintai meski kekasihnya sudah di
alam kubur. Heboh juga, ya? Atau kisah kasih Romeo and Juliet karya
William Shakespeare yang evergreen alias selalu fresh. Sampai-sampai
ada parodinya, Rojali dan Juleha, film Indonesia yang dibuat tahun
70-an dan dibintangi Benyamin S., Nanu “Warkop”, dan Ida Royani.
Bukan hanya itu, Chris Klein, Leelee Sobieski, dan Josh Hartnett ikut
menghangatkan film remaja paling anyar, Here on Earth pun bikin
remaja dibuai dengan percintaan. Itulah fakta bahwa cinta memang
bikin hidup lebih hidup (sori, nggak bermaksud nyontek pameo Losta
Masta!)
Dan perlu diketahui ‘virus’ cinta bisa menimpa siapa saja, termasuk
anak masjid atawa aktivis dakwah di sekolah/kampus. Iya, dong, soalnya
mereka juga manusia. Bisa sedih, bisa gembira. Sangat mungkin untuk
sakit hati, dan sekaligus bisa berbunga-bunga. Namun tentu saja kadar
kesedihan dan kegembiraannya berbeda-beda satu sama lain. Nah,
berkaitan dengan urusan cinta ini, anak masjid bukan berarti ‘ma’sum’
dari melakukan aktivitas itu. Bisa saja mereka berbuat begitu. Tapi
tentu saja, akan sangat hebat bila ketaatan kepada Islam mampu
menenggelamkan hawa nafsunya dari berbuat maksiat.
Disinilah perlunya ilmu untuk mengendalikan cinta supaya nggak liar
tak karuan. Kalo liar bisa gawat. Apalagi menimpa anak masjid atawa
aktivis dakwah di sekolah. Malu dong, kalo sampe aktivis dakwah
pacaran. Bukan hanya memalukan, tapi juga dosa.
Setiap orang boleh mencintai dan dicintai. Itu haknya, termasuk
remaja seusia kamu. Tapi bukan berarti kemudian menghalalkan segala
cara, seperti melakukan pacaran. Brur, aktivitas itu sangat
bertentangan dengan ajaran Islam. Kamu kan seorang muslim, masak mau
melakukan tradisi yang bukan berasal dari Islam. Suer, budaya pacaran
itu tak dikenal dalam kamus ajaran Islam. Nggak ada itu. Catet, ya!
Yakin deh, cinta itu bisa dikendalikan. Yang nggak bisa itu adalah
dimatikan. Ini memang urusan hati. Jadi sejauh mana hati kita bisa
menahan hawa nafsu yang bergejolak dalam gairah jiwa muda kita. Kamu
tetap harus tahu aturan main dalam Islam. Wajib kamu ketahui, bahwa
Islam tak pernah mengekang umatnya. Kalaupun ada aturan yang menurut
kamu mengekang aktivitas kamu. Kamu jangan salah paham. Itu adalah
upaya Islam untuk menyelamatkan umatnya. Ya, itulah ‘risiko’ kamu
milih Islam, yang tentu saja itu adalah pilihan terbaik buat kamu.
Lalu bagaimana langkah riil dalam mengendalikan cinta? Begini sobat,
hal yang paling mendasar sebagai seorang muslim kamu kudu beriman
kepada Allah SWT. Dan keimanan kepada Allah itu bukan cuma mengimani
keberadaan-Nya saja, yakni hubungan penciptaan (shilatul kholqi),
tapi sekaligus harus ada hubungan ketaatan terhadap perintah-perintah
Allah (shilatul awaamir). Nah, dengan kata lain, wajib taat terhadap
apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah
SWT:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36).
Ketaatan kamu itu akan menciptakan dinding yang tebal agar kamu tak
tergoda untuk melihat atau melakukan aktivitas yang tak diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya. Terus kamu juga kudu memahami bahwa
perasaan cinta itu muncul jika ada rangsangan dari luar. Maka langkah
bijak dan logis adalah menutup seluruh peluang yang bisa membuat
kamu tergoda untuk melakukannya. Hindari aktivitas yang menjurus
kepada pikiran-pikiran kamu tentang cinta yang liar sehingga kamu
merasa gatal bila tak menempuh jalur pacaran untuk mengekspresikan
cinta kamu. Sebaliknya kamu harus menyibukkan diri dalam aktivitas
yang tidak bersentuhan dengan perasaan-perasaan cinta terhadap lawan
jenis kamu. Olah raga atau full ngurus pengajian, insya Allah cara
itu bisa mengusir keinginan kamu untuk melakukan pacaran.
Pilih mana; Nikah atau Zina?
Idih, ngeri bin serem! Pilih nikah dong! Aman dan dapat pahala. Iya,
nggak? Tapi sebentar, kita kan masih sekolah, masak mau nekat nikah,
sih? Ya, itu persoalannya.
Jadi begini sobat, tadi kita sudah sepakat bahwa tak ada istilah
pacaran islami. Betul, kan? Terus kamu juga sudah tahu bagaimana
mengendalikan cinta. Masalahnya sekarang tak ada jalan lain bila kamu
tetap ngotot ingin menyalurkan ‘aspirasi’ kamu kepada lawan jenis
kecuali nikah. Nikah adalah sarana legal dan aman secara syar’i untuk
menumpahkan kasih sayang kita seutuhnya kepada lawan jenis kita.
Firman Allah SWT.:
“
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Ruum: 21)
Bahkan Al Quran juga menyisipkan larangan untuk berbuat zina. Allah
SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al
Isra: 32).
Inilah Al Quran pedoman yang paripurna yang bakal menyelamatkan kita.
Nah, itu memang tuntunan Al Quran. Tapi lain lagi dengan tuntunan para
selebriti yang telah menancapkan pengaruhnya lewat perilaku
hidupnya. Selebriti mana sih yang bersih dari perbuatan ini? Masih
ragu-ragu menunjuk selebriti mana yang alim. Bukan apa-apa, ketika ia
memilih karir dan ‘pekerjaan’ sebagai artis, sejak saat itulah ia
mulai melangkah meninggalkan ajaran Islam yang suci. Terus terang,
sudah menjadi rahasia umum kan bila mayoritas kehidupan kaum
selebritis akrab dengan kemaksiatan.
Celakanya, remaja sekarang justeru mencontek abis gaya hidup artis
pujaannya. Termasuk sebagian anak masjid, lho. Disinilah perlunya
pemahaman Islam. Kembali ke urusan cinta. Memang bila kamu tetap
ngotot ingin berkasih-sayang dengan putri pujaan kamu. Atau untuk
yang putri dengan ‘Arjuna’ pilihannya. Ya, sudah, nikah saja. Habis
perkara. Iya, nggak? Kalo ternyata masih mikir-mikir karena masih
sekolah. Mendingan keinginan itu ‘dikubur’ dulu untuk sementara. Kamu
fokuskan dulu belajar. Tapi ingat, jangan coba-coba nekat untuk
‘mendekati’ kekasihmu dengan cara pacaran.
Soalnya Non, pacaran itu adalah pintu gerbang menuju perzinaan.
Makanya, kita wanti-wanti banget jangan sampai kamu ngotot melakukan
aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Jadi sekali lagi, pacaran islami itu nggak ada dalam kamus ajaran
Islam. Kalaupun boleh mengatakan, ada sih ‘pacaran islami’, yakni
nikah dulu! Begitu, Non!
SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas daripada matahari di siang
bolong. Namun begitu, masih ada yang berusaha menolaknya walaupun
dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba Di antara
syubhat itu adalah:
Syubhat pertama:
Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.
Tanggapan:
Istilah "Pacaran Islami" itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah
ada wujudnya. Anggaplah dia bisa menghindari khalwat (berduaan),
menyentuh serta menutup aurat, tapi tetap tidak akan bisa menghindari
dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan
kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.
Syubhat kedua:
Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu
calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal
itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga
kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi
setelah nikah.
Tanggapan:
Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan
suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar
tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli
kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu
yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan
berusaha menampakkan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di
hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi
buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat
semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul
Qodîr oleh Imam Al-Munâwî: 3/454).